Jum. Jan 27th, 2023
Spread the love
0Shares
Istilah manusia gerobalk sudah lama, sejak tahun 2010, tercuat melalui berbagai media. Mereka tidur dan kesehariannya berada tidak jauh dari gerobak. Bak rumah berjalan, kini sekaligus jadi mata pencaharian mereka./foto:Sonni Hadi

Bandung,- Manusia gerobak atau sebut saja mereka yang sengaja datang dari daerah daerah pedasaan secara berkelompok pergunakan mobil minibus sewaan, mulai berjejer di jalan jalan Kawasan kota Bandung.

Hal tersebut dijadikan budaya mencari uang dengan cara mengemis dan bermodalkan pakaian compang camping, lusuh, bahkan membawa anak anak dibiarkan main atau pura pura tidur atau melamun di pinggir jalan.

Hal itu merupakan senjata ampuh untuk mengundang belaskasihan bagi siapa saja yang melihatnya, betapa tidak? Mereka seperti tampak kelaparan, sengsara dan selalu memelas. Sehingga tidak jarang orang orang yang lalu Lalang dan tidak mengetahui sebenarnya, akan mengira sebagai orang kurang beruntung dan terlantar.

Akan timbul rasa kasihan dan memberi uang atau makanan apa saja, padahal mereka tidak seperti yang diperkirakan. Mereka memang seperti sudah terlatih, didepan orang selalu terlihat lemas dan merunduk. Namun apabila tidak ada orang mereka ketawa ketiwi berkecengkrama, layaknya orang orang normal biasa yang tanpa ada kesusahan.

Dari mana asalnya mereka berdatangan ke Kota Bandung? Beberapa orang yang berhasil dimintai keterangan seperti salah satunya asmiri (28) asal Juntinyuat Indramayu mengaku datang bersaya 14 orang termasuk anak anak 3 orang yang dibawa ibunya.

Mereka menyewa mobil terbuka, seharga Rp 400 ribu dibayar secara patungan, biasanya dipungut biaya oleh seorang yang dipercaya untuk mengurus segala sesuatunya selama di kota. Mulai mencari lokasi dan menyebar beberapa orang untuk menempati tempat yang dianggap cocok nongkrong menunggu uluran belas kasihan.

“Banyak yang berdatangan, biasanya ada 3 rombongan masing masing ada ketua grupnya. Sehari mereka selalu mendapat rejeki, baik yang turun dari mobil sedan maun yang lewat. Pokoknya selalu ada saja,dan masalah makan tidak pernah kekurangan karena setiap hari ada saja yang membagikan nasi bungkus maupun nasi kotak.” Kata Asmiri sambil menunjuk kea rah teman temannya yang berada di ujung jalan.

Sampai kapan berada di Kota Bandung? Jawabnya sampai lebaran kedua, karena lebaran pertama puncak mengais rejeki ke tempat sholat ied, katanya.

Berapa pendapatan setiap orangnya? Ternyata beda beda. Pokoknya paling sedikit satu juta, biasanya yang paling banyak mendapat uang ibu ibu yang membawa anak kecil, kalau pulang kampung bisa membawa sekitar Rp 3 juta bersih tanpa bayar ongkos naik bak terbuka.

Itulah sisi lain kehidupan di era teknologi ini, hanya mengandalkan pakaian lusuh dan pura pura lemas kelaparan, bisa menumpulkan pundi pundi uang tidak sedikit jumlahnya. Tanpa harus  mengeluarkan tenaga atau menguras tenaga, cukup berdiam diri mengandalkan actions uang datang dari siapa saja.

Jadi tidak heran dan percaya, bahwa seorang pengemis yang pernah dirazia aparat, kedapatan didalam tas lusuh terdapat uang puluhan juta hasil dari mengemis.

Tegar S Hadi

 

0Shares
sonni hadi

By sonni hadi

Pengelola Sonni Hadi wartawan majalah mahardika anggota PWI Jawa Barat No kta 10.00.5551.95. Independent tidak terkait dengan satu golongan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *