Jum. Jan 27th, 2023
Spread the love
0Shares
Masyarakat di Kabupaten Indramayu, Jabar terus berupaya melestarian upacara adat Kumpul Tumpeng, Ngarot, Unjungan atau Selamatan. Kegiatan itu digelar menyambut musim tanam (MT) padi Rendeng tiba, seperti yang dilakukan masyarakat Kecamatan Lelea ini. (Taryani)

INDRAMAYU, MajalahMahardika – Upaya melestarikan kegiatan adat istiadat sebagai warisan budaya nenek moyang terus dipertahankan masyarakat di Kabupaten Indramayu, Jawa Barat guna menyambut datangnya musim tanam (MT) padi Rendeng.

Di berbagai pelosok desa, masyarakat tampak antuasias dan bersemangat melaksanakan upacara adat yang waktunya digelar sesuai jadwal yang ditetapkan masing-masing Pemerintah Desa. Masyarakat menamai kegiatan itu dengan berbagai sebutan. Ada yang menyebut kegiatan Kumpul Tumpeng, Mapag Sri, Unjungan, Ngarot dan Selamatan.

Apapun sebutannya yang jelas kegiatan itu setiap tahun rutin dilaksanakan masyarakat yang waktunya digelar menjelang awal dimulainya musim tanam (MT) padi Rendeng.

Upacara adat selalu ramai dilaksanakan masyarakat. Bahkan, di sejumlah desa penyelenggaraan upacara adat itu dihibur dengan berbagai kesenian daerah. Misalnya wayang kulit atau wayang golek, sandiwara, tari topeng, ketuk tilu, dan sebagainya.

Umumnya, upacara adat Unjungan atau Mapag Sri itu ditandai dengan kegiatan kumpul tumpeng yang dilakukan masyarakat. Tak heran dalam satu kegiatan itu terkumpul sampai ratusan tumpeng dalam bakul, baskom atau wadah lainnya yang dilengkapi dengan berbagai buah-buahan, camilan dan makanan khas masyarakat.

Tumpeng-tumpeng yang dikumpulkan masyarakat pada pagi hari pada suatu tempat seperti kantor Kepala Desa atau Balai Desa itu lalu dibubuhi do’a – do’a sebagai penghantar yang dipimpin ustad atau alim ulama setempat.

Usai dipanjatkan do’a – do’a, tumpeng-tumpeng itu oleh panitia dibagi dua bagian. Bagian pertama diserahkan ke panitia dan bagian kedua dibawa pulang kembali oleh yang punya untuk disantap bersama anggota keluarga.

Masyarakat berharap dengan diselenggarakannya upacara adat itu kegiatan masyarakat khususnya para petani yang berkaitan dengan pengolahan tanah, penanaman padi hingga masa panen berlangsung selamat tanpa gangguan.

Salah seorang warga di Kecamatan Lelea, Waska, 58 mengemukakan, masyarakat Kecamatan Lelea dan sekitarnya menyebut kegiatan upacara adat menyambut dimulainya masa pengolahan tanah itu adalah Ngarot.

Kegiatan Ngarot dikoordinir Pemerintah Desa dan dilaksanakan panitia. Ngarot di Desa Lelea diselenggarakan cukup ramai. Sebab panitia sudah menganggarkan biaya mengundang pimpinan grup kesenian untuk menghibur masyarakat.

“Pementasan hiburan bukan sebatas wayang kulit atau wayang golek saja. Ada juga kesenian tradisional yang menarik lainnya. Bahkan, ada kesenian yang nyaris punah atau yang sudah jarang tampil di tengah masyarakat, seperti ketuk tilu, macapat, tari topeng dan sebagainya,” ujarnya.

Usai digelar upacara adat Ngarot, tak lama masyarakat khususnya para petani dan buruh tani mulai terjun ke sawah. Melakukan kegiatan pengolahan tanah. Termasuk membenahi petak atau galeng sebagai pembatas antara sawah yang satu dengan sawah lainnya juga menguras saluran tersier dan sebagainya.

Kegiatan selanjutnya, membuat lahan pembenihan, melakukan penanaman bibit padi atau biasa disebut tandur, pemeliharaan tanaman hingga masa panen padi. (Taryani)

0Shares
sonni hadi

By sonni hadi

Pengelola Sonni Hadi wartawan majalah mahardika anggota PWI Jawa Barat No kta 10.00.5551.95. Independent tidak terkait dengan satu golongan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *